Background

Wednesday, December 26, 2012

Rapat Terbuka Senat Universitas Negeri Surabaya

Ketua Komnas HAM: Bangsa Telah Menjadi Persembahan Negara


Man jadda wa jadda, barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Begitulah yang digemakan rektor Unesa, Prof. Dr. Muchlas Samani saat berpidato pada rapat terbuka senat hari ini, Kamis (27/12/2012) dalam rangka Dies Natalis Unesa ke-48 tahun 2012. Dengan tema “Membangun Insan Berkarakter Menuju Masyarakat Madani”, Muchlas menyatakan bahwa Unesa sedang bergerak untuk mewujudkan tema tersebut, yaitu tumbuh berkembang dengan karakter yang kukuh.

“Karakter tidak dapat diajarkan, akan tetapi ditularkan dan dibudayakan. Kunci dari kedua hal itu adalah teladan (uswah),” begitu tutur Muchlas dalam kesempatan tersebut.

Selengkapnya...

Saturday, December 22, 2012

No Plagiarisme Karya!

Meningkatkan budaya literasi dan perlindungan hak atas kekayaan intelektual. Itulah tema seminar nasional yang digebyar FBS dalam rangka Dies Natalis ke-48 Universitas Negeri Surabaya hari ini, Sabtu (22/12/2012). Hadir sebagai pembicara (1) Prof. Dr. Ali Saukah dari Universitas Negeri Malang dengan materinya “Penulisan dan Penerbitan Karya di Jurnal Terakreditasi”; (2) Bekti Purwanto, SH, Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Bali dengan materinya “Perlindungan Hasil Kekayaan Intelektual di Perguruan Tinggi”, dan (3) Prof. Dr. Budi Darma, M.A. dengan materinya”Budaya Literasi dan Strategi Peningkatannya. 200 peserta seminar yang hadir meliputi mahasiswa (S1/S2/S3), guru, dosen, budayawan, seniman, pengusaha, dan lingkup masyarakat ilmiah lainnya.

Selengkapnya...

Sunday, December 16, 2012

Puncak Perayaan Dies-Natalis ke-48

New Pallapa Menggoyang Unesa

Akhirnya Unesa genap berumur 48 tahun. Peringatan hari jadi itu dirayakan Unesa dengan menggelar event-event meriah. Hari ini, Minggu (16/12/2012), puncak peringatan hari jadi tersebut diisi dengan kegiatan jalan sehat dan berakhir dengan konser dari Orkes Melayu (OM) New Pallapa. Seluruh kemeriahan terangkum dalam Dies-Natalis ke-48 Universitas Negeri Surabaya.


SEMANGAT: Ratusan peserta mengikuti kegiatan jalan sehat Dies-Natalis ke-48 Unesa.
Selengkapnya...

Monday, December 10, 2012

Agenda Dies-Natalis Ke-48


Pemilihan Tenaga Kependidikan Teladan

Untuk memeriahkan dies natalis ke-48, Universitas Negeri Surabaya mencoba menyemarakkan acara akbar ini dengan serangkaian lomba menarik. Salah satu lomba yang diusung adalah pemilihan tenaga kependidikan teladan. Tujuan penyelenggaraan lomba ini adalah untuk memberikan penghargaan kepada tenaga kependidikan yang dianggap berprestasi. Berikut 10 kategori tenaga kependidikan yang masuk seleksi.
1.      Pemegang Uang Muka Kegiatan (PUMK)
2.      Pembuat Daftar Gaji (PDG)
3.      Pengadministrasi Kepegawaian
4.      Pengadministrasi Kemahasiswaan
5.      Pengadministrasi Perlengkapan
6.      Pengadministrasi Pendidikan
7.      Pengadministrasi Umum/Pengelola Data
8.      Satuan Pengamanan (Satpam)
9.      Petugas Parkir
10.  Pramu Kantor/Caraka/Pengantar Surat

Selengkapnya...

Saturday, December 8, 2012

Agenda Dies-Natalis ke-48

Orkes Melayu New Pallapa Meriahkan Jalan Sehat


Inilah puncak dari perayaan dies-natalis ke-48 Universitas Negeri Surabaya. Jalan sehat yang akan digelar pada Minggu, 16 Desember 2012 di Kampus Unesa Lidah Wetan ini menyuguhkan serangkaian acara menarik, mulai dari bazar mahasiswa sampai penampilan bintang tamu yang ditunggu-tunggu, Orkes Melayu New Pallapa. ORKES Melayu (OM) Palapa sudah tidak asing lagi bagi pecinta dangdut panggung, terutama di walayah Jatim dan Jateng bagian timur. Grup dangdut asal Sidoarjo itulah yang kerap memainkan warna musik dangdut berirama koplo. Penampilan mereka pun sering kita lihat melaui VCD-VCD bajakan yang dijual di lapak-lapak di berbagai tempat pinggir jalan.

Selengkapnya...

Tuesday, December 4, 2012

Agenda Dies-Natalis Ke-48

Open Tournament Catur Unesa Cup IV



Untuk memeriahkan dies natalis ke-48, Universitas Negeri Surabaya mencoba menyemarakkan acara akbar ini dengan serangkaian lomba menarik. Salah satu lomba yang diusung adalah Open Tournament Catur Unesa Cup IV. Lomba catur ini diikuti oleh semua lapisan, baik warga intern kampus maupun umum. Dengan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp20.000,00, peserta sudah dapat mengikuti lomba namun harus menyediakan papan catur dan jam catur sendiri. Peserta juga diwajibkan berpakaian rapi saat mengikuti lomba.

Penyelenggaraan lomba akan dilaksanakan dalam dua kali pertandingan, yaitu tanggal 13 Desember 2012 untuk intern kampus, dan tanggal 15—16 Desember untuk umum. Hari pertama, lomba dilaksanakan pukul 12.00—17.00 sedangkan hari kedua pukul 09.00—selesai. Lomba akan digelar di Gedung T2 Auditorium Leo Idra Ardiana Lt. III Kampus Lidah Wetan, FBS, Unesa.
Selengkapnya...

Monday, December 3, 2012

Agenda Dies-Natalis Ke-48

Mendidik Cinta Lingkungan Lewat Lomba


Untuk memeriahkan dies natalis ke-48, Universitas Negeri Surabaya mencoba menyemarakkan acara akbar ini dengan serangkaian lomba menarik. Salah satu lomba yang digarap adalah lomba kebersihan kampus yang dilaksanakan pada minggu terakhir bulan November ini. Lomba ini diikuti oleh tingkat fakultas, tingkat jurusan, serta UKM-UKM selingkung Unesa, begitu tutur Dra. Winarsih, M.Kes, koordinator lomba ini saat diwawancarai lewat telepon.

Selengkapnya...

Tuesday, November 20, 2012

FBS Menyambut Bulan Bahasa 2012


         Pembukaan Bulan Bahasa 2012 digelar hari ini, Selasa (20/11). Agenda tahunan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya ini akan menggelar empat lomba yang dilaksanakan dua hari berturut-turut, yaitu tanggal 20—21 November 2012. Empat macam lomba tersebut antara lain baca berita, artikel ilmiah, musikalisasi puisi, dan ranking satu kebahasaan.

Acara yang digelar di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni ini mengusung tema “Hidup Bahasaku, Hidup Karyaku.” Hadir dalam acara tersebut pembantu rektor I Prof. Dr. Kisyani Laksono, M.Hum., Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Dr. Syamsul Sodiq, M.Pd., segenap dosen-dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia seperti Drs. Tengsoe Tjahjono, M.Pd., Drs. Diding Wahyudin Rohaedi, M.Hum., Dra. Trinil Dwi Turistiani, Dra. Ismu Winarni, Dr. Mintowati, M.Pd., serta para peserta lomba dari berbagai SMA di Jawa Timur yang didampingi guru pembimbing masing-masing.


Selengkapnya...

Friday, November 16, 2012

Budi Purnomo: Potret Pahlawan Masa Kini

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Itu kata-kata yang selalu Bung Karno katakan. Saat ini kita telah memasuki bulan November di tahun 2012. Hal pertama yang akan selalu kita kenang di bulan ini adalah sejarah lahirnya negara kita tercinta ini yaitu kemerdekaan. Kemerdekaan adalah bebas dari keterikatan dan mampu berdiri sendiri. Manusia sebagai individu yang bebas dan merdeka dapat berbuat apa saja untuk memperbaiki dirinya selama kebebasan itu tidak merugikan orang lain. Kebebasan adalah harga diri manusia tetapi harus di barengi dengan moral karena moral yang membedakan manusia dengan hewan.
17 Agustus 1945 adalah titik awal bangsa Indonesia untuk meraih kebebasannya, menuju bangsa yang maju dan mandiri, yang didapat dengan tidak mudah. Bangsa kita harus menunggu selama tiga setengah Abad untuk dapat meraihnya. Peran para pahlawan tentu memiliki peranan yang sangat besar diawal-awal kemerdekaan. Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Tanpa perjuangan, keberanian dan pengorbanan mereka tentu hal yang mustahil untuk kita bisa sampai seperti sekarang ini. Karena itulah, untuk menghargai perjuangan, keberanian, dan pengorbanan tersebut, maka mereka dianugrahi gelar Pahlawan Kemerdekaan.
Indonesia sudah merdeka selama 67 tahun, dan telah memasuki era modern. Tapi masih mungkinkah untuk kita bisa menjadi seorang pahlawan? Di zaman modern seperti saat ini seorang pahlawan tidak harus berperang menggunakan senjata, tetapi cukup dengan berprestasi dalam bidang yang di tekuninya. Kita pun dapat menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita seperti lingkungan tempat tinggal ataupun tempat kita bekerja.
Sebagai contoh adalah Budi Purnomo, seorang pegawai tata usaha di Universitas Negeri Surabaya yang sehari-harinya bekerja sebagai pengantar surat. Pria yang biasa dipanggil Budi ini bertugas mendata surat-surat yang masuk ke bagian tata usaha, lalu mendistribusikannya ke fakultas-fakultas yang ada di Ketintang. Profesinya tersebut ia jalani bersama seorang rekannya yang lain.
Selengkapnya...

Saturday, October 20, 2012

Wisuda Ke-75 Universitas Negeri Surabaya

Android vs Mesin Cetak

Wisuda ke-75 Universitas Negeri Surabaya akhirnya digelar hari ini, Sabtu (20/10/2012). Sebanyak 2069 wisudawan dan wisudawati mengikuti upacara pengukuhan yang digelar di GOR Bima Unesa Kampus Lidah Wetan Surabaya. Berebeda dengan wisuda ke-74 yang lalu, wisuda kali ini berlangsung selama dua hari sampai Minggu, 21 Oktober. Selama dua hari tersebut, wisuda akan dilaksanakan dalam tiga gelombang. Seperti hari pertama ini, pukul 07.00 sampai 11.00 WIB GOR Bima telah diramaikan oleh wisudawan dari program Pascasarjana, FIP, dan FIS. Selanjutnya, mulai pukul 12.00—16.00 WIB, berlangsung gelombang kedua program FMIPA, FT, dan FIK. Untuk hari kedua, disusul oleh FBS dan FE.

Selengkapnya...

Setelah Rektorat, BAAK Siap ke Lidah

Seperti yang telah diinforamasikan sebelumnya, tahun 2013 nanti Kantor Pusat Universitas Negeri Surabaya akan diboyong ke Lidah Wetan. Ternyata bukan hanya kantor pusat saja, melainkan beberapa unit pelaksana penting seperti  perpustakan pusat, gedung BAAK, Humas, dan Pascasarjana juga telah direncanakan pembangunannya. Hal ini diungkapkan Rektor Universitas Negeri Surabaya, Prof. Dr. Muchlas Samani saat ditemui di gedung FIP, Sabtu (20/10/2012) sesaat setelah prosesi wisuda ke-75 gelombang pertama selesai digelar.

Selengkapnya...

Friday, October 19, 2012

Gladi Bersih Wisuda Ke-75 Unesa

Gladi bersih wisuda ke-75 Universitas Negeri Surabaya digelar hari ini, Jumat (19/10/2012). Acara yang digelar di GOR Bima Unesa Kampus Lidah Wetan Surabaya tersebut berlangsung lancar. Kondisi ini mencerminkan kesiapan panitia, wisudawan, serta perangkat pendukung lain dalam penyelenggaraan wisuda. Gladi bersih dilakukan untuk meminimalkan kesalahan dalam prosesi wisuda ke-75 yang akan dilaksanakan mulai besok pagi. 

Selengkapnya...

Berbahasa dan Membahasa Lewat UKBI

        Jika bahasa Inggris ada TOEFL, maka bahasa Indonesia ada UKBI. UKBI, Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia digelar hari ini, Jumat (19/10/2012) di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya. Acara yang mengusung tema “Bahasa Merupakan Identitas Suatu Bangsa” tersebut dihadiri oleh ratusan mahasiswa baru dari jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Uji kemahiran ini dilakukan untuk mengetahui keterampilan berbahasa seseorang baik lisan maupun tulisan. Profil keterampilan berbahasa seseorang perlu diketahui secara umum tanpa memperhatikan dimana dan berapa lama ia belajar bahasa Indonesia. UKBI bisa ditempuh oleh orang asing yang belajar bahasa Indonesia. Kita harus berbangga dengan hal ini, karena tugas kita memang untuk menyukseskan dan mensosialisasikan UKBI.

Selengkapnya...

Monday, October 15, 2012

Derap Langkah Agent of Change

Siap Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Menumbuhkan Tradisi Keilmuan

Kita sering mendengar seorang anak berkata tentang cita-citanya berikut, “menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.” Terlepas dari pernyataan tersebut, kita sebagai orang tua kadang belum mengerti kemauan si anak sampai ia mampu menjelaskannya sendiri dewasa nanti. Lantas pertanyaan selanjutnya, sosok seperti apakah yang berguna bagi nusa dan bangsa tersebut?

                                                                                                         http://www.luthfiyah.com/
Selengkapnya...

Monday, October 8, 2012

Pengakuan Inna, Anak Tukang Ojek yang Kuliah Bahasa Inggris

Saya Ingin Mendirikan Sekolah

Seuntai senyum manis terkembang dari bibirnya saat wartawan Unesa menemui seorang gadis berkerudung ungu di Joglo FBS Unesa, Senin (8/10/2012). Sapaannya yang ramah menambah keceriaan di siang yang terik itu. Kulitnya yang putih bersih seperti menyiratkan bahwa ia adalah seorang gadis kota yang lugu. Namun pandangan ini ternyata keliru. Pertemuan yang baru pertama kali tersebut bertambah mesra saat Inna mulai membuka kisah tentang kehidupannya.


RAMAH: Inna (kiri) bersama teman-temannya saat ditemui di joglo FBS, Unesa. 
Selengkapnya...

Saturday, September 29, 2012

Menyusuri Jejak Sang Penulis

Rindu Berenang di Sungai


Jangan menyerah sebelum mencoba. Begitulah yang digemakan Ario Muhammad hari ini, Sabtu (29/9/2012) dalam acaranya yang bertajuk SM-2T (Scholarship Motivation Training for Teenager). Acara yang digelar di Auditorium Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya ini mengulas tentang kiat-kiat untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri, serta tips-tips menjalani kuliah di negeri seberang.

KENANGAN: Ario Muhammad saat bercerita tentang masa kecilnya di Halmahera.
Selengkapnya...

Monday, September 17, 2012

Halal Bihalal Dharma Wanita

Pertemua rutin Dharma Wanita Subunit Kantor Pusat digelar Kamis (13/9). Pertemuan yang digandeng dengan halal bihalal tersebut dilangsungkan di Auditorium Kantor Pusat Lantai III Universitas Negeri Surabaya. Acara yang diikuti oleh 42 peserta dari Dharma Wanita dan juga pensiunan tersebut menghadirkan Ketua Dharma Wanita, Ny. Siti Choriya Budiarso sebagai narasumber. Turut hadir pula Kepala BAAK-PSI Unesa, Hertiti Setyowati (san).

                                       Sumber: jurnalindonesiaraya.blogspot.com
Selengkapnya...

Supervisi Pimpinan Unesa

Jalin Kerjasama Lewat PPG dan Bidik Misi


Pada 10-11 September 2012 yang lalu, Universitas Negeri Surabaya mengadakan supervisi Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) ke SMP Negeri 1 Kediri dan SMK Negeri 3 Kediri. Supervisi yang diikuti 12 rombongan dari tim Unesa ini bertujuan untuk memonitoring Praktek Pengalaman Lapangan mahasiswa, serta berbagi informasi tentang dunia pendidikan saat ini.

Selengkapnya...

Tuesday, September 11, 2012

Sehari Bersama Abdul Hadi W.M.

Memburu Kebinekaan di Tengah Krisis

         Bagi penikmat sastra, nama Abdul Hadi W.M. tentu sudah tidak asing lagi. Sastrawan, budayawan, dan ahli filsafat ini dikenal melalui karya-karyanya yang bernafaskan sufistik. Berbagai pandangannya tentang kefilsafatan itu ia tularkan dalam kuliah umumnya hari ini, Selasa (11/09) di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya. Kuliah umum yang dihadiri puluhan mahasiswa dari prodi pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Sastra Indonesia itu bertajuk kebudayaan, kekuasaan, dan krisis. Pemilihan topik ini dilatarbelakangi fakta empiris tentang krisis kebudayaan yang telah lama melanda kehidupan bangsa kita, entah itu budaya korupsi, budaya kekerasan, budaya nyontek, budaya ngamen, dan lain sebagainya.

                                                                               perspektifbaru.com
Selengkapnya...

Monday, August 27, 2012

PKKMB Satu Semester: Awal Ataukah Akhir?

Pelaksanaan PKKMB tahun 2011 yang terbukti kurang efektif merupakan PR tersendiri bagi universitas. Rancangan PKKMB satu semester yang telah disusun ternyata tidak memberikan ruang gerak bagi mahasiswa baru untuk lebih efektif dan kreatif. Agenda yang sulit diwujudkan adalah pengadaan kegiatan yang aktif setiap minggunya, bukan hanya terpusat untuk dua minggu sekali, begitu ungkap Umaidi Sahid, wakil ketua PKKMB Fakultas Bahasa dan Seni saat ditemui pada acara Pra-PKKMB di auditorium FBS, Senin (27/08). FBS yang juga merupakan salah satu kampus idola ternyata menjadikan dana sebagai masalah utamanya. Hal ini tidak berbeda untuk fakultas lain karena sejatinya dana yang dikucurkan memang tidak mencukupi kegiatan PKKMB secara keseluruhan.

 
BERTAHAN: Walaupun cuaca panas, mahasiswa baru FBS tetap bertahan mengikuti sesi Pra-PKKMB.
Selengkapnya...

Wednesday, July 25, 2012

Pengaduan Janda Enam Anak yang Mengais Rezeki dari Mahasiswa

Saya Pernah Diusir Satpam

*Fauziah Arsanti

Sosok perempuan ini tentu tidak asing lagi di kalangan civitas akademika Unesa Lidah Wetan. Bagaimana tidak, ia akan dengan mudah kita temui di saat pagi baru menjelang sampai siang telah meradang. Atau jika dagangannya belum laku, ia akan tetap bertahan sampai senja temaram. Pernahkah terbersit rasa empati jika Anda berjumpa dengannya? Saya berharap iya. Berikut sepenggal obrolan saya dengan perempuan yang telah dua tahun menapaki lorong-lorong Unesa ini.

POTRET: Karti saat ditemui di depan Gedung T4 FBS, Selasa (26/6).
Selengkapnya...

Thursday, July 19, 2012

Cerita di Balik Kesuksesan Mantan Rektor

Tak Gentar Bertugas
di Tengah Konflik Ambon

Oleh: Fauziah Arsanti*

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Mungkin pepatah ini cocok ditujukan kepada Soerono Martorahardjo, rektor Universitas Negeri Surabaya periode 1988-1997. Jalan yang ditempuhnya untuk menjadi orang besar tidaklah mudah. Setelah melewati masa-masa sekolah yang penuh aral, kini pensiunan pegawai itu telah menikmati buah kerja kerasnya.

 CATATANPenulis bersama Bapak Soerono Martorahardjo saat ditemui di rumahnya, Selasa (17/07).
Selengkapnya...

Sunday, July 15, 2012

Perdana Tanpa KRS Manual


RAMAH: Hertiti Setyowati, Kepala BAAK-PSI Unesa saat ditemui di ruang kerjanya.

Universitas Negeri Surabaya menerapkan sistem baru pada pemrograman kartu rencana studi (KRS). Untuk tahun ini, tidak ada lagi pengisian KRS manual seperti tahun-tahun sebelumnya. Mahasiswa cukup mengisi KRS online yang telah dijadwalkan pada jurusan masing-masing. Hal ini seperti yang diungkapkan Hertiti Setyowati, Kepala Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan dan Perencanaan dan Sistem Informasi (BAAK-PSI) Unesa, Selasa (26/6).
Selengkapnya...

Friday, July 13, 2012

Geliat Ranunesa di Malam Hari: Mengintip Pemuda-pemudi yang Sedang Kasmaran


Laporan Oleh: Fauziah Arsanti*

Di kota besar sekelas Surabaya yang padat dan cenderung sibuk, Universitas Negeri Surabaya mampu membangun kampusnya menjadi wahana edukasi sekaligus konservasi. Belum lama dibangun, Danau Ranunesa telah menjadi primadona di kalangan mahasiswa, dosen, civitas akademika, dan masyarakat sekitar. Kampus Unesa Ketintang yang selalu buka 24 jam membuat Ranunesa dapat disinggahi kapan saja.

 Suasana danau di siang hari.

Suasana danau di malam hari.
Selengkapnya...

2012, SNMPTN Tulis Terakhir?


Isu SNMPTN tulis akan dihapus ternyata hanya wacana belaka. Tahun depan SNMPTN jalur tertulis akan tetap diselenggarakan. Namun bila ditilik lebih lanjut, wacana di depan sebenarnya diinginkan pelaksanaannya oleh pihak-pihak tertentu.
Selengkapnya...

SPG Amazing, Wajah pun Amazing


MEMESONA: Salah seorang penyelenggara Booth Vaseline Men sedang bergaya di lokasi acara.

          Booth Vaseline Men menggelar aksinya di Unesa Ketintang. Gebrakan PT Unilever ini menempatkan Unesa dalam daftar keempat pada kegiatan show to campus yang diadakan Selasa (26/6). Sederet universitas ternama di Surabaya telah dikunjungi, mulai dari UPN, Stesia, sampai Unair. Acara yang bertajuk Fresh Face Amazing Ride ini sebelumnya juga menggelar promonya di UHP, Kodam, dan Royal Plaza. Untuk Unesa sendiri, acara digelar di depan Gedung BAAK, mengingat badan kampus ini sedang ramai-ramainya dikunjungi mahasiswa yang mengurus registrasi.
Selengkapnya...

Asyiknya Berkenalan dengan Sastrawan: Menjadi Pecatur Handal yang Serba Tahu

Laporan Oleh: Fauziah Arsanti
Mahasiswa Semester Lima di Universitas Negeri Surabaya

Siapa yang tidak mengenal catur. Permainan satu ini memiliki penggemar yang tidak sedikit jumlahnya. Permainan yang menomorsatukan strategi dan analisa ini cocok diterapkan sebagai media pembelajaran karena sifatnya yang mengasah otak. Dipadukan dengan judul novel dari berbagai angkatan, catur akan menjadi sarana belajar sekaligus hiburan yang menyenangkan.

SERIUS: Dua siswa sedang memainkan “Novel dalam Catur” layaknya pecatur profesional.
Selengkapnya...

Semarak Peresmian Tiga Aset Penting Unesa: Tiga Ekor Kambing Menceriakan Hadiah Jalan Sehat

Laporan Oleh: Fauziah Arsanti*

Ada yang baru dari Unesa sekarang. Rawa-rawa yang menjemukan mata kini disulap menjadi danau nan elok. Penjaja jajanan yang membanjiri sudut-sudut jalan ditertibkan pada sebuah kantin berlabel foodcourt. Pembangunan gedung PPG pun mulai dilirik oleh pihak-pihak yang ingin meretas jalan ke dunia pendidikan.







Selengkapnya...

Saturday, June 16, 2012

Sinopsis Drama
Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi
Adaptasi Bebas dari Cerpen Seno Gumira Ajidarma
(Penulis Angkatan 2000)
Oleh : Gusmel Riyadh

Drama ini menceritakan tentang penduduk suatu kampung yang digegerkan oleh tingkah Zus, seorang wanita yang pada waktu mandi bisa membuat semua laki – laki penduduk itu mengintipnya. Saat mengintip itulah, para lelaki seperti lupa dengan keadaan di sekelilingnya. Mereka selalu mendengar bunyi resleting yang dibuka, bunyi gesekan kain – kain busana, bunyi karet celana dalam, dan bunyi sabun menggosok kulit yang dapat mereka tafsirkan sebebas – bebasnya. Namun bukan itu yang dinantikan para lelaki tersebut. Yang ditunggu adalah suara wanita itu. Dimulai dari dendang kecil, kemudian menjadi nyanyian yang mungkin tidak terlalu merdu, namun ternyata merangsang khayalan penuh gairah. Suara wanita itu serak – serak basah, sexy sekali. Agaknya nyanyian itu telah membuat mereka semakin betah untuk mengintip tiap hari.

Istri – istri pun geger. Mereka demo pada Pak RT untuk segera mengusir Zus dari kampung mereka. Karena tingkah Zus itu, suami – suami mereka menjadi dingin di ranjang.

Pak RT pun menjadi bingung. Ia tidak habis pikir mengapa suara yang serak-serak basah bisa membuat orang berkhayal begitu rupa, sehingga mempengaruhi kehidupan rumah tangga sepasang suami istri. Menurutnya itu bukan salah Zus, tetapi salah suami-suami itu sendiri yang membayangkan adegan – adegan erotis. Akhirnya dengan didampingi Pak Hansip, Pak RT pun membuktikan kebenaran berita tersebut. Tak disangka-sangka, Pak RT juga mengakui bahwa suara Zus memang sangat merangsang dan menimbulkan daya khayal yang meyakinkan seperti kenyataan.

Jika keadaan tersebut didiamkan, masalah akan tambah pelik. Maka Pak RT pun memberitahu Zus tentang apa yang terjadi sebenarnya. Mendengar itu, Zus mengerti. Tak disangka - sangka, Zus malah pindah ke kondominium. Tapi namanya juga laki-laki, walaupun sudah pergi dari kampungnya, mereka tetap saja mengingat-ingat Zus. Akhirnya Pak RT memutuskan akan mendirikan fitness centre di kampungnya. Di fitness centre itu akan diajarkan Senam Kebahagiaan Rumah Tangga yang wajb diikuti Ibu – Ibu supaya bisa membahagiakan suaminya.

Menurut saya, Gusmel Riyadh telah berhasil mengadaptasi cerpen ini menjadi sebuah sandiwara. Ia menggunakan alur maju dan juga alur mundur, seperti yang tampak pada halaman 1 dan 5. Ia juga membingkai sandiwara ini dengan cerita yang amat lucu. Hal ini tampak pada dialog – dialog berikut ini.

Adegan 3 PAK RT : “Apakah yang terjadi dengan kenyataan sehingga seseorang bisa bercinta dengan imajinasi? Yang juga membuat aku bingung, kenapa para suami ini bisa mempunyai imajinasi yang sama?”
HANSIP : “Ya namanya lelaki normal, Pak. Mungkin Bapak juga akan melakukan hal yang sama. (JEDA SEBENTAR, KEMUDIAN SETENGAH BERBISIK). Itu kalo bapak masih normal.
PAK RT : “Heh?! Apa kamu bilang.
HANSIP : “Eh, enggak Pak! Saya bilang perempuan itu kayak kuda binal!
••

Adegan 7
PAK RT : “Baiklah Bapak – Bapak Ibu – Ibu saya sudah memutuskan, akan mendirikan fitness centre di kampung ini. Di fitness centre itu akan diajarkan Senam Kebahagiaan Rumah Tangga yang wajb diikuti Ibu – Ibu, supaya bisa membahagiakan suaminya. pembukaan fitness center itu kelak, kalau bisa dihadiri Jane Fonda, Ade Rai, Viki Burki, dan Miyabi.
LAMPU PADAM. KEMUDIAN TERANG DI SUATU SUDUT, HANSIP MEMASANG TULISAN DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI DI BAWAH TULISAN ‘PEMULUNG DILARANG MASUK’.


Resensi oleh: Fauziah Arsanti
Untuk melengkapi tugas Sejarah Sastra
Selengkapnya...

Sinopsis Drama Lakon KOOR
Kidung Orang – Orang Rakus
Oleh Teater Lembaga

Drama ini menceritakan sebuah negara yang bernama Durjanasia, tetangga dekat Endonesa. Negara Durjanasia merupakan negara yang kacau – balau. Perut buncit adalah lambang kegagahan, kewibawaan, dan kesuksesan penduduknya. Jadi sudah sewajarnya kalau mereka mengarahkan semua tindakan - tindakan tanpa terkecuali, demi mempertahankan perut buncit mereka.

Tokoh utamanya adalah Purok, seorang terdakwa yang terbukti melakukan penggelapan uang sehingga Endonesa mengalami kerugian sebesar 15 trilyun. Saat bertamasya ke Durjanasia, ia malah melihat keadaan yang sama sekali berbeda dengan negerinya. Adab dan budaya curang sangat dijunjung tinggi di sini. Di Endonesa, kasus suap harus dihukum, tapi di Durjanasia suap menyuap harus dilakukan agar bisa bertahan hidup.

Menanggapi kekacauan di negeri itu, Purok selalu merespon dan mencoba mencegah orang – orang agar meninggalkan perbuatan kotornya. Akibat perbuatannya itu, Purok bermasalah dengan seorang petugas polisi bernama Korup. Ia menangkap Purok karena tidak ikut melakukan kecurangan di negerinya. Karena Purok berasal dari Indonesia, ia mengolok – olok Indonesia sebagai negara yang mempunyai mimpi selangit, namun gampang terhasut, bisanya cuma ngeluh, suka besar-besarin masalah, dan susah dimengerti. Karena sudah tau cara main negeri itu, Purok pun menyuap petugas polisi tersebut agar mau membebaskannya.

Menurut saya, drama ini menggambarkan keadaan di negeri kita sekarang. Anggap saja Purok sebagai Gayus Tambunan yang sedang plesir ke Singapura. Jalan ceritanya berusaha memberikan kritik pada Indonesia sebagai negara yang tidak henti – hentinya menanggung beban korupsi. Selalu saja ada nama baru yang muncul, kemudian hilang tanpa ada penanganan lebih lanjut. Drama ini diberi judul KOOR karena dalam adegannya ada kritik – kritik yang disuarakan lewat sebuah nyanyian. Kritikan terhadap Indonesia itu juga tampak dari dialog antara Purok dengan Kurop berikut.

KUROP
Darimana asal kamu?
PUROK
Endonesa.
KUROP
Oo…Endonesa. Tau, tau, tau. Pantes. Keliatan. Jelas!
PUROK
Apanya, pak?
KUROP
Gampang terhasut, bisanya cuma ngeluh, suka besar-besarin masalah, susah dimengerti!…Tapi saya kagum sama kamu dalam satu hal.
PUROK
Apa itu?
KUROP
Mimpinya selangit!
••

KUROP
Pulang! Daripada mati konyol?
PUROK
Mati konyol karena apa?
KUROP
Karena kamu kurus, Endonesa!

Resensi oleh: Fauziah Arsanti
Untuk melengkapi tugas Sejarah Sastra
Selengkapnya...

Sinopsis Novel Aus
Putu Wijaya (Penulis Angkatan 1966)

Novel Aus ini kental sekali dengan budaya Bali. Setting cerita yang berlokasi di Tabanan, sebuah kota dengan keindahan alamnya yang indah. Letaknya di lereng Gunung Batukau dan berbatasan dengan Laut Selatan. Banyak objek pariwisata yang masih perawan. Di situ ada sumber air panas dan Tugu Pahlawan Margarana sebagai tempat peringatan pada puputan Margarana. Ada pantai Tanah Lot. Ada seni kekawin, seni patung, barong tek – tekan di Puri Kerambitan dan Arja Bon Bali yang banyak mengambil pemain dari Tabanan. Daerah Sangeh yang banyak keranya baru tergarap, begitu juga Tanah Lot. Di Bedugul dan lain – lainnya masih perlu dimanfaatkan secara maksimal. Kota Tabanan juga memiliki sebuah Taman Makam Pahlawan yang dihuni oleh lebih dari seribu pahlawan. Mustahil jika Tabanan tidak dapat menjadi sebuah kota yang makmur.

Namun yang terjadi di Desa Sanggulan malah sebaliknya. Ya, seperti itulah menurut pendapat I Gusti Wayan Melem, seorang pensiunan bupati yang pernah memerintah Tabanan. Sanggulan yang berada di batas kota Tabanan itu telah dicap oleh penduduk sebagai desa yang melarat. Gusti Melem pun menyesal mengapa ia tidak menggarapnya dulu. Untuk itulah, sebagai penebus kelalaiannya di masa lalu, Gusti Melem iseng mengunjungi Sanggulan. Namun dalam perjalanannya ke Sanggulan, tak ada satupun orang yang menyapanya seakan – akan ia tidak pernah menjabat sebagai Bupati. Gusti Melem benar – benar sakit hati.

Setelah sampai di Sanggulan, betapa kagetnya ia. Ternyata penduduk Sanggulan tidak sepenuhnya miskin. Mereka memanfaatkan kemiskinannya untuk menarik simpati dan belas kasihan dari penduduk luar Sanggulan. Gusti Melem pun kecewa.

Semenjak itulah, Gusti Melem selalu memikirkan dua peristiwa tersebut. Ia tidak hanya menyesal, tetapi mulai membenci orang. Karena kerasnya berpikir, ia pun jatuh sakit. Kata mantri Puger, Gusti Melem terkena serangan angin duduk. Handai taulan dan para kenalan pun datang menjenguk. Ada yang membawa makanan, ada pula yang membawa uang. Karena seringnya bertemu, mereka sering bertukar pikiran dengan Gusti Melem. Istri Gusti Melem diam – diam punya maksud lain. Ia ingin memperbanyak jumlah uang tersebut untuk memperbaiki perekonomian dan disumbangkan pada saudara – saudaranya yang tidak mampu. Untuk itulah, Gusti Melem selama bertahun – tahun ”dipaksa” untuk sakit. Orang – orang akhirnya menjulukinya Nak Sungkan (dalam bahasa Bali berarti orang sakit). Kesehatan Nak Sungkan sedikit membaik saat Pak Bupati menjenguk. Karena sering datang, Pak Bupati makin betah mengajak Nak Sungkan berembuk. Karena menurutnya segala pertimbangan Nak Sungkan adalah pertimbangan orang waras, positif, dan optimistik.

Suatu hari, seorang pegawai Kantor Bupati tiba – tiba “sakit”. Pak Bupati resah karena ia adalah pegawai kesayangannya. Pak Bupati pun menyumbang uang untuk sekedar membantu pengobatannya. Anehnya, keesokan harinya ia masuk kerja kembali. Beberapa waktu kemudian, terdengar kabar bahwa Pak Gubernur juga “sakit”. Padahal beberapa waktu yang lalu Pak Gubernur masih menanyakan pesanan tanah yang hendak dipakainya sebagai kebun percobaan cengkeh pribadi. Seperti pengalaman sebelumnya, Pak Bupati segera membeli sebidang tanah yang bagus untuk Pak Gubernur. Alhasil, Pak Gubernur kembali sehat.

Terakhir, ada sebuah kejadian menarik. Waktu itu Pak Bupati mengundang Mantri Puger untuk main ceki di rumahnya. Tapi karena tidak tahu, banyak orang mengira kalau Pak Bupati sedang sakit. Datanglah handai taulan dan para kenalan menjenguk sambil membawa makanan dan uang. Ternyata nasib Pak Bupati tidak ada bedanya dengan Nak Sungkan. Istri Pak Bupati juga memaksanya untuk “sakit”. Kejadian itu menjadi awal dari “sakit”nya Tabanan. Semua orang menderita “sakit”, sehingga mendatangkan simpati dari kalangan lokal bahkan internasional. Tabanan, termasuk pula Sanggulan pelan – pelan tumbuh. Jumlah orang sakit semakin berkurang setelah Nak Sungkan meninggal dunia.

Walau tidak tersurat, namun menurut saya novel ini menyiratkan cerita yang lucu. Bagaimana mungkin seseorang menganggap sakit sebagai anugerah. Tentunya bukan anugerah bagi si sakit, tapi bagi orang – orang terdekatnya. Yang paling lucu lagi tersirat pada halaman 141 yang menuliskan bahwa seluruh Tabanan sakit. Bagaimana mungkin satu kota mengalami sakit yang hampir bersamaan dan tidak diketahui apa penyebabnya. Untuk itulah, pembaca seperti diajak untuk menafsirkan sendiri maksud dari jalan ceritanya.

Dari segi novel, Putu Wijaya menyajikan kalimat – kalimat yang segar dan sering mengagetkan. Di dalamnya terdapat petuah dan nasihat yang dapat kita petik hikmahnya.
☁ Rupanya pintar saja tak cukup, untuk sampai pada bijaksana, masih diperlukan banyak langkah tambahan. (halaman 40)
☁ Hidup ini seperti teka – teki silang. Ada kotak – kotak masalah dengan jawabannya masing – masing yang tak bisa diganti dengan jawaban lain. (halaman 53)
☁ Saya kira tak ada bedaya juga disiplin mulai ditegakkan dengan segelas air teh. Dengan segelas air teh, sebuah disiplin telah dimulai tanpa dirasakan oleh orang yang bersangkutan. Biarlah mereka merasa itu hanya persoalan segelas teh saja. Saya sendiri yang tahu bahwa itu semuanya adalah awal sebuah disiplin. (halaman 74)
☁ Di dalam badan yang sehat terletak jiwa yang kuat. Dan dengan jiwa yang kuat segala cita – cita bisa dicapai. (halaman 104)
☁ Kebersihan lingkungan yang tidak didukung oleh kebersihan hati, sama saja dengan tempayan emas yang tidak berisi apa – apa sehingga praktis tidak berguna sama sekali, meskipun memang kelihatannya rupawan. (halaman 117)

Novel ini menurut saya tidak memiliki kekurangan yang berarti. Hanya saja Putu Wijaya tidak menjelaskan makna dari Bahasa Bali yang sering ia cantumkan dalam cerita. Hal ini membuat pembaca non Bali seperti saya, tidak mengerti.

Resensi oleh: Fauziah Arsanti
Untuk melengkapi tugas Sejarah Sastra
Selengkapnya...

Sinopsis Novel Petir
Dewi Lestari (Penulis Angkatan 2000)

Novel ini menceritakan Elektra, seorang gadis keturunan cina berumur sekitar 20 tahun. Elektra merupakan anak dari seorang ahli elektronik bernama Wijaya yang memiliki tempat servis sendiri bernama Wijaya Elektronik. Ia memiliki kakak perempuan bernama Watti. Entah mengapa, Dedi, panggilan akrab ayahnya, seperti menjalin ikatan suci dengan listrik. Pernah Elektra menyentuhkan test-pen ke tubuh Dedi dan ajaibnya dapat menyala. Hal ini mulai terjadi saat ia tersetrum listrik tiga fasa dari kabel telanjang yang tersentuh olehnya. Ia pun pingsan, namun hebatnya dapat sadar kembali.

Elektra kecil sangat senang menonton kilatan petir. Ia sering menari-nari dibawah hujan saat petir manggelegar. Tidak beberapa lama kemudian, petir menyambar pucuk pohon asam di pojok rumah. Dan apakah itu tarian memanggil petir dari alam bawah sadar ? itu lah pertanyaan Elektra.

Namun tak disangka Dedi kena Stroke dan menginggal dengan seketika. Dan Elektra adalah orang yang paling shock. Setelah Dedi menginggal akhirnya Watti menikah dengan Kang Atam, dokter lulusan Universitas Pajajaran dan pindah ke Tembagapura. Hari-hari terasa sepi bagi Elektra, karena ia tinggal di rumah besarnya yang bernama Eleanor. Suatu ketika ia bertemu dengan teman SMA-nya yang memiliki warnet. Lalu ia diajarkan menggunkan internet. Dan ajaibnya ia seperti menemukan kehidupan baru semenjak kenal internet. Pada puncaknya ia sakit karena kelelahan dan tak dapat bengun dari tempat tidurnya selama beberapa hari. Lalu datanglah seorang wanita yang bernama Ibu Sati, ia adalah pemilik toko yang menjual perlengkapan pemujaan. Ibu Sati menyarankan Elektra untuk mendirikan usaha warnet.

Akhirnya Elektra bersama Kewoy (penjaga warnet temannya) dan Mpret si maniak komputer, menyulap Eleanor menjadi Warnet, Rental PS, Distro, Home theater dan warung nasi goreng yang penjualnya bernama Mas Yono. Setelah berdiskusi, akhirnya munculah sebuah nama ELEKTRA POP. Pada suatu ketika Elektra terserang penyakit aneh yang apabila ia ingin pergi ke dokter penyakit itu sembuh. Namun ketika ia duduk di belakang komputer penyakit itu kambuh lagi. Akhirnya 4 orang temannya berinisiatif untuk membawanya ke rumah sakit secara diam-diam. Namun saat mereka menyentuh tubuh Elektra, tiba – tiba tubuh Elektra mengeluarkan listrik sehingga membuat mereka terpental.

Akhirnya Ibu Sati datang dan memberi wejangan pada Elektra. Ibu Sati memberitahu kalau Elektra memiliki kemampuan yang luar biasa. Maka mulai saat itu Elektra dilatih agar bisa mengendalikan kekuatannya. Setelah dapat mengendalikan, Elektra mendirikan “Klinik Elektrik” di ruang rental PS-nya. Tak disangka banyak orang yang datang berobat. Konflik terjadi saat Mpret tidak setuju untuk membuat “Klinik Elektrik” di rental PS-nya tersebut. Beberapa waktu kemudian, datanglah sepupunya Mpret yaitu “BONG” dan selanjutnya tidak dijelaskan apa yang terjadi antara Bong dan Elektra serta Mpret.

Hal yang paling mengena saat saya membaca novel ini adalah nama tokoh – tokohnya yang berhubungan dengan bidang kelistrikan. Tokoh – tokoh tersebut misalnya Elektra dan Watti. Elektra lah yang menjadi tokoh utama dalam novel ini.

Pembaca dituntut untuk sedikit berpikir saat membaca novel yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi ini. Dewi Lestari sangat pintar dalam menciptakan kata – kata penuh metafora, sehingga saya sering membacanya berulang – ulang untuk memahami dan membayangkan makna dari tulisannya. Kata pengantar yang oleh sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting pun dibuat Dewi dengan bahasa yang tinggi pula. Dewi juga menulis novel ini dengan membuat alur maju yang tiba-tiba mundur sehingga pembaca makin penasaran untuk membaca halaman selanjutnya.

Mengenai jalan cerita, memang sulit diterima dengan akal sehat. Seseorang yang menyimpan kekuatan aneh seperti Elektra, sebelumnya hanya saya jumpai pada kartun anak – anak. Mungkin Dewi Lestari menginginkan para pembaca bermain dengan imajinasinya. Terkadang ada cerita yang hanya lewat dan tidak dijelaskan lagi, seperti Watti dan suaminya.Namun dari novel ini, saya bisa mendapat pengetahuan tentang bidang kelistrikan.

Ending cerita yang disuguhkan Dewi Lestari pun masih menyimpan konflik, sehingga saya bertanya – tanya tentang apa yang kemudian terjadi dengan ELEKTRA POP. Mungkin hal ini juga akan dirasakan oleh pembaca lain. Menurut saya, Inilah keunikannya, cerita yang tidak selesai.


Resensi oleh: Fauziah Arsanti
Untuk melengkapi tugas Sejarah Sastra
Selengkapnya...

Sinopsis Novel
Pertemuan Dua Hati
Nh. Dini (Penulis Angkatan 1950 – 1960-an)

Dalam Novel ini, diceritakan perjuangan Bu Suci, seorang guru sekolah dasar di Kota Purwodadi yang sudah berpengalaman mengajar selama 10 tahun. Sebenarnya sejak kecil ia bercita – cita untuk menjadi seorang sekretaris karena sering melihat gadis atau wanita muda yang mengetik dan mengurus kantor. Namun setelah dewasa, barulah ia mengetahui betapa rumit menjadi sekretaris yang baik, sehingga ia mau mengikuti nasihat orang tuanya untuk masuk ke sekolah guru. Kepindahan kerja suaminya ke Kota Semarang sebagai pengawas bengkel dan ahli mesin, membuat Bu Suci dan ketiga anaknya juga harus memulai kehidupan baru kembali.

Di kota Semarang itulah, masalah demi masalah dilewati Bu Suci. Kehidupan sehari – hari yang serba pas – pasan membuat Bu Suci dan suaminya harus menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran sebaik mungkin. Beberapa waktu kemudian, anak sulungnya tiba – tiba mengeluh panas, lalu menderita batuk dan salesma. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa ia mengidap epilepsi.

Setelah diterima mengajar sementara di sebuah sekolah, Bu Suci harus menghadapi permasalahan anak sukar di kelasnya. Anak itu bernama Waskito, murid nakal yang sering membuat keonaran dengan memukuli teman – temannya tanpa sebab yang jelas. Setelah mencari keterangan dari kepala sekolah, Bu Suci mendapat kesimpulan bahwa Waskito kekurangan perhatian dari keluarganya.

Menurut cerita nenek Waskito pada guru – guru, ketika belum berumur satu setengah tahun, adiknya lahir. Langsung saja ibunya menumpahkan perhatian pada anak kedua. Bapaknya sering pergi ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Pulang sering membawa oleh – oleh bagus. Tapi bukan itu yang diinginkan Waskito. Ia menginginkan kedua orang tuanya menyisihkan waktu untuk lebih menyayanginya. Akhirnya Waskito tumbuh menjadi anak yang pemarah dan pemberontak. Untuk itulah, bapaknya menitipkan Waskito pada kakek dan neneknya. Sang nenek pun dengan senang hati mau merawat Waskito, karena menurutnya sumber masalah ada di menantunya, yaitu Ibu Waskito sendiri. Ibunya selalu memanjakan Waskito, melarangnya untuk melakukan pekerjaan berat. Sedangkan di rumah sang nenek, Waskito diberi tanggung jawab untuk menjalankan pekerjaan rumah yang ringan, dengan tujuan akan dapat merubah sifatnya. Dan benar saja, dengan kepercayaan yang diberikan neneknya, Waskito perlahan – lahan mulai tumbuh menjadi anak yang stabil. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Ibu Waskito yang tidak menyukai mertuanya berhasil membujuk suaminya, meminta supaya anak mereka kembali ke rumah. Alasannya, kasihan anak itu bekerja keras di tempat kakeknya. Dan sejak kembali ke rumah, tabiat Waskito pun kembali ke asalnya, yaitu pemarah dan pemberontak.

Menanggapi kenakalan Waskito yang semakin menjadi - jadi, pihak kepala sekolah beserta guru - guru sudah berencana akan mengeluarkan Waskito dari sekolah. Namun sebagai pendidik, Bu Suci tidak sependapat dengan rencana tersebut. Ia malah terdorong untuk membantu Waskito keluar dari masalahnya. Bu Suci ikhlas membantu walaupun ia sendiri masih diliputi masalah tentang anak sulungnya yang belum sehat betul. Dengan berbagai pendekatan yang telah dilakukan, Bu Suci mengetahui bahwa Waskito sebenarnya adalah seorang anak yang baik dan cerdas. Kerja keras Bu Suci akhirnya membuahkan hasil. Tabiat Waskito yang pemarah dan pemberontak pun lama – lama bisa diubah.

Menurut saya, Nh. Dini memberikan jalan cerita yang meneladani. Seorang guru yang berusaha mengembalikan kepercayaan diri anak didiknya akibat didikan keluarga yang salah. Tokoh utamanya yang berprofesi sebagai guru telah memberi pengetahuan kepada saya bahwa tugas seorang guru tidak semata – mata hanya mengajar saja, tetapi juga harus peka terhadap kepribadian anak didiknya. Setiap anak memiliki kepribadian yang berbeda – beda, sehingga berbeda pula dalam menyelesaikan masalah. Kerja keras Bu Suci patut dijadikan teladan.

Bu Suci yang sejak kecil bercita - cita menjadi sekretaris ternyata tidak bisa mewujudkan impiannya itu karena orang tuanya menginginkan ia menjadi seorang guru. Namun Bu Suci menerimanya dengan lapang dada, bahkan hal itu memacunya untuk belajar menumbukan jiwa pendidik dalam dirinya. Kembali sebuah sikap yang patut dijadikan teladan.

Dari segi novel, saya kira sudah baik. bahasanya jelas dan mudah dimengerti. Namun Nh. Dini kurang membubuhkan dialog dalam novelnya. Dialog hanya dicantumkan seperlunya saja. Yang lain adalah berupa ulasan cerita yang panjang, sehingga membuat pembaca merasa bosan. Selain itu, akhir cerita tidak dijelaskan dengan jelas. Mengapa? Karena saya tidak mengetahui riwayat akhir dari ayah dan ibu Waskito, apakah masih tetap sebagai orang tua yang ceroboh dalam mendidik anak atau sudah menyadari kesalahan dari caranya mendidik Waskito.

Nasib Bu Suci selanjutnya juga tidak dijelaskan. Seperti cerita dalam novel, Bu Suci hanya mengajar sementara di sebuah sekolah selama 2 bulan. Tidak ada yang tahu dimana Bu Suci mengajar setelah 2 bulan tersebut.

Resensi oleh: Fauziah Arsanti
Untuk melengkapi tugas Sejarah Sastra
Selengkapnya...