Background

Saturday, March 8, 2014

Budi Darma: Sastrawan Muda Indonesia Tengah Dibonsai

Sastrawan muda Indonesia layaknya sebuah pohon yang rindang, namun karena tertutup sinar matahari mereka mengalami kesulitan untuk tumbuh.

Pendapat tersebut dilontarkan oleh Prof. Dr. Budi Darma, M.A., guru besar bidang satra Universitas Negeri Surabaya. Novelis dan kritikus sastra ternama di Indonesia itu mencoba menyoroti kondisi sastrawan muda Indonesia saat ini. Pria kelahiran Rembang, 25 April 1937 itu melihat istilah muda dari dua segi, yaitu dari usia dan kedudukannya.
“Jika melihat dari usia tentu sudah jelas maknanya, sementara bila dari kedudukan adalah terkait dengan tingkat kemapanannya. Namun jika bicara masalah sastrawan muda lebih baik melihat dari usianya,” ujar Budi Darma.

Sumber: areamagz.com
Mantan rektor IKIP Surabaya itu berasumsi bahwa pengarang muda Indonesia banyak sekali jumlahnya. Contoh kecil misalnya, banyak sastrawan muda yang berasal dari pesantren namun tidak pernah muncul. Di luar pesantren pun sebenarnya juga tidak kalah banyak. Sayangnya, mereka kurang dikenal publik karena jarang muncul ke permukaan. Mereka jarang muncul antara lain karena faktor kepopuleran pengarang yang sudah mapan, misalnya saja Putu Wijaya, Gunawan Muhammad, Sapardi Djoko Damono, Mardi Luhung, dan lain sebagainya. Para pengarang yang sudah mapan itu rata-rata sampai sekarang masih berkarya sehingga kedudukan para sastrawan muda menjadi semacam dibonsai.
Bertolak dari itu semua, kita bisa becermin dari masa lalu saat negara Singapura baru pertama kali terpisah dari Malaysia. Pada waktu itu, menteri-menteri Singapura tergolong masih muda, rata-rata usianya berkisar 25—30 tahun. Akan tetapi, untuk sekarang ini sudah tidak mungkin karena para pemangku pemerintahan sebagian besar sudah berumur. Begitu juga dengan Indonesia tahun 1985 silam. Sastrawan Indonesia pada masa itu yang umurnya masih sekitar 20an seperti Ajib Rosidi, W.S. Rendra, dan N.H. Dini, mereka kenal baik dengan para menteri Indonesia. Namun situasinya sekarang berbeda, para menteri sekaligus sastrawan cenderung sudah tua. Andaikata sastrawan muda kita sekarang hidup pada masa itu, mungkin mereka akan beruntung. Misalnya saja Chairil Anwar, andaikata dia panjang umur dan hidup di masa kini bisa jadi ia tidak akan punya nama sebesar sekarang.
Budi Darma berasumsi bahwa posisi sastrawan muda sekarang terlibat dalam persaingan. Cerpen misalnya, salah satu standar baik buruk atau bagus tidaknya dapat dilihat melalui terbitan Kompas. Kompas setiap minggunya rata-rata menerima 65—70 cerpen yang harus dipilih satu. Ketentuan itu harus tetap dilakukan, padahal belum tentu cerpen yang tidak terpilih itu jelek. Itulah mengapa masyarakat memanfaatkan blog sebagai media untuk menyebarluaskan gagasan dan pikiran.
Budi Darma tidak menampik bahwa kendala sastrawan muda untuk booming adalah senior-senior di atasnya yang masih terus berkarya. Memang, seniman tidak mengenal masa pensiun. Selama dia bisa berkarya dia akan terus berkarya tanpa terikat oleh umur, meskipun dulu sempat ada pendapat bahwa sastrawan yang mencapai umur 40 tahun sudah tidak dapat berkembang lagi. Namun sekarang situasinya berbeda. Mereka yang tua-tua tetap dapat menelurkan karya dengan baik. Ditambah lagi bila melihat daftar pemenang nobel-nobel bidang sastra, rata-rata mereka berumur jauh di atas 50 tahun. Karena itu, umur sekarang ini boleh dikatakan sudah luntur.
Menurut riset yang dilakukan negara-negara maju, suatu saat nanti Indonesia akan dipenuhi banyak manula. Karena itulah di Indonesia sempat ada anggapan bahwa tiga anak sudah cukup, lalu menurun menjadi dua anak cukup, dan sekarang ada anggapan bahwa satu anak cukup, bahkan ada negara-negara maju yang pertumbuhannya mencapai zero growth (0%). Artinya, orang-orang satu generasi diharapkan dapat menahan diri untuk punya anak sehingga mereka bisa terus tumbuh. Masalah lain, di Indonesia terdapat penggerombolan sastrawan di Pulau Jawa, Sumatra, beberapa di Sulawesi dan Kalimantan, namun untuk Indonesia bagian timur seperti Papua, Pulau Rote, Pulau Sumbawa, dan lain-lain tidak pernah terdengar gaungnya. Dulu sebenarnya sempat ada, namun media komunikasi semakin tidak memberi tempat untuk berkiprah keluar.
“Saya pernah berkenalan dengan seseorang dari Sumbawa yang sudah menulis banyak karya, namun tidak ada yang membaca. Penerbit di sana masih memperhitungkan untung rugi, takut jika karya yang diterbitkan tidak laku di pasaran. Itu artinya, minat baca di sana dapat dikatakan lebih rendah dibandingkan di sini,” ungkap budayawan yang mendapatkan hadiah pertama sayembara mengarang roman DKJ tahun 1980 itu.
Para sastrawan dari Indonesia timur itu bisa saja “lari” ke penerbit Jawa seperti Gramedia atau Grasindo, namun mereka akan kalah bersaing karena orang-orang Jawa memiliki pergaulan yang luas. Karena itulah timbul keragu-raguan dari para sastrawan muda, apakah karya mereka akan diterima atau tidak. Di samping itu, penerbit kadang juga melihat-lihat kualitas dari karya yang dikirim. Contoh kecil misalnya Penerbit Gramedia yang memiliki satu bagian bernama GPU (Gramedia Pustaka Utama). GPU dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama untuk buku-buku yang dapat dikatakan bermutu, dan bagian lainnya untuk buku yang laris namun mutunya tidak begitu penting. Dalam situasi demikian, anak-anak muda itu ada kemungkinan kurang diperhatikan atau mereka takut untuk menerbitkan karyanya. Itulah mengapa mereka beralih outlet ke blog.
Saat ditanya tentang benih-benih sastrawan muda dari Unesa, Budi Darma mengenal beberapa sosok, seperti Soim Anwar, Mustaqim (penyair dari Gresik), Fauzi (penggagas Majalah Kalimas), dan masih banyak lagi. Untuk maju, sastrawan yang tidak sedikit jumlahnya itu sama sekali tidak bergantung pada lembaganya, dalam hal ini adalah Unesa. Mereka benar-benar berangkat dari diri sendiri berdasarkan minat dan keinginan masing-masing.
Budi Darma membenarkan adanya pendapat yang menyatakan bahwa kebobrokan negara akan semakin terlihat jika sastra negara itu ditinggikan. Menurutnya sastra itu seperti televisi. Di dalamnya banyak berita buruk seperti banjir, tanah longsor, kelaparan, pembunuhan, korupsi, dan lain sebagainya. Dengan versi lain, sastra pun dapat dikatakan demikian.
“Kita bisa melihat di negara-negara yang bobrok namun tradisi sastranya mengakar kuat, juga sastrawannya yang hebat-hebat. Amerika Latin misalnya, banyak bentrokan sering terjadi, pembunuhan merajalela, kartel-kartel narkoba sering bertempur sesama mereka, utang negara bukan main banyaknya, permainan partai politik kotor, namun selebihnya mereka memiliki tradisi sastra yang kuat,” tegas pengarang novel Olenka tersebut.
Budi Darma menambahkan, kondisi di depan bukan tanpa sebab. Orang Amerika Latin kebanyakan datang dari Spanyol di mana negara tersebut memiliki seorang pengarang hebat bernama Servantes Della Cortez. Novelnya tentang perlawanan terhadap kincir angin membuatnya dianggap gila oleh banyak orang, padahal sebenarnya orang-orang itulah yang gila. Berdasarkan survei dan riset, tulisan Servantez itu pernah dipilih oleh BBC London sebagai novel paling baik sepanjang masa. Keturunan-keturunan bangsa Spanyol yang hidup pada masa itu kemudian hijrah ke Amerika Latin seperti Honduras, Panama, Argentina, dan daerah-daerah sekitarnya. Walaupun Amerika Latin dipenuhi kriminalisme, namun sastrawan telah menjadikannya aset untuk menulis karya sastra dengan cara mengungkapkan kebobrokan negara.
“Seandainya keadaan Indonesia pada masa penjajahan Belanda dulu tenteram dan bahagia, tidak akan ada orang seperti Pramudya Ananta Toer. Bumi Manusia karangan Pramudya melukiskan keburukan masa penjajahan Belanda, termasuk antek-antek Belanda yang notabene adalah para priyayi. Lalu ada pula Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis yang menggambarkan masa transisi Indonesia menuju kemerdekaan. Masa transisi memang banyak acuannya,” terang Budi Darma.
Tak apa jika ada yang beranggapan bahwa Indonesia adalah negara bobrok. Namun tidak ada salahnya jika Indonesia meniru Amerika Latin yang hebat bersastra walaupun negaranya tinggi kriminalisme. Para sastrawan, khususnya sastrawan muda tanah air dapat menjadikannya sumber tulisan yang menginspirasi, atau bahkan malah mengkritik (San/Put).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

No comments:

Post a Comment