Background

Sunday, May 19, 2013

Prof. Drs. Toho Cholik Mutohir, MA, Ph.D.

Unesa Harus Bermartabat

Ikon Universitas Negeri Surabaya sebagai pencetak tenaga kependidikan membuat lembaga ini terus berpacu ke arah yang lebih baik. Sebagai salah satu kampus unggulan di Jawa Timur, Unesa menjembatani impian beribu-ribu mahasiswa untuk terjun ke dunia kerja, khususnya ke ranah pendidikan. Dengan berdasar wacana tersebut, Unesa bertekad menjadi lokomotif pendidikan yang setia pada visi misinya.

Wacana positif tersebut dilontarkan oleh Prof. Drs. Toho Cholik Mutohir, MA, Ph.D., Guru Besar Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya saat ditemui di ruang dosen Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya, Selasa (7/5/2013). Mencoba disandingkan dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Toho mengetengahkan perihal pembaharuan pendidikan.

BERWIBAWA: Prof. Toho saat ditemui di ruang dosen Pascasarjana Unesa, Selasa (7/5/2013).

“UPI memang lebih tua dari Unesa, wajar bila Pemerintah memberikan otonomi dan menjadikannya Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT BHMN). Karena itu, tidak mengherankan bila UPI menjadi lembaga pendidikan yang terdepan dan menjadi universitas pelopor dan unggul. Namun perlu diketahui bahwa ukuran universitas yang baik tidak dilihat dari usianya. Semua mata tertuju pada seberapa besar perubahan positif yang ia berikan pada dunia pendidikan,” ujar Toho.

Saat ini Unesa juga berperan aktif dalam memperbaiki sistem pendidikan nasional. Toho membeberkan, bentuk peran serta Unesa tersebut telah tertuang dalam buku “Rekonstruksi Pendidikan” yang belum lama ini diterbitkan Unesa. Dalam buku tersebut dinyatakan bahwa pendidikan dan pembelajaran harus menyenangkan, guru dan pendidikan harus menyediakan fasilitas yang memadai dan sempurna, agar para siswa nyaman belajar dan menjadi pandai. Perlu juga pendidikan budi pekerti agar anak Indonesia memiliki sopan santun, hidup teratur, tidak melanggar, dan ujungnya negara menjadi teratur.
“Tujuan penulisan buku tersebut semata-mata untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa Unesa terus berusaha menjadi yang terdepan, segar, dan inovatif,” lanjutnya.
Sejak dari IKIP sampai sekarang berubah menjadi universitas, Unesa tetap konsisten pada jalurnya, yaitu pendidikan. Majunya pendidikan tergantung dari guru, dan itu harus dihasilkan oleh universitas pendidikan. Memang ada jurusan nonpendidikan, namun jumlahnya tidak banyak. Kedudukan jurusan nonpendidikan semata-mata untuk memperkuat jurusan pendidikan. Konsisten pada pendidikan sudah merupakan bagian dari misi, sehingga tidak mungkin bagi Unesa untuk mengutamakan nonkependidikan.
 Saat disinggung mengenai kiprah Unesa diantara universitas-universitas besar lain seperti ITS dan Unair, Toho tidak menganggapnya masalah. Baginya, semua universitas itu sama. Lagipula bila dilihat dari ketatnya persaingan, Unesa berada di peringkat dua pendaftar terbanyak setelah Unair. Tentu ini menjadi kebanggaan yang luar biasa.
“Baik buruknya universitas itu tidak dilihat dari peringkatnya, namun tercermin dari empat pilar: proses pendidikan yang berlangsung, dosen yang kompeten, pelayanan mengasyikkan, serta research dan produktivitasnya. Pelayanan yang mengasyikkan itu bisa berbentuk penyediaan ruang kelas yang lebih baik, bangunan yang tidak kumuh, serta perbaikan sarana prasarana lain,” beber pria yang juga menjadi dosen di Pascasarjana itu.
Toho mengakui, Unesa akan bahu-membahu untuk mengoptimalkan kelima aspek di depan. Agar hasilnya maksimal, Unesa selalu mengedepankan sinergi dengan instansi lain, baik itu intern maupun ekstern. Namun sebelum melangkah lebih jauh, hubungan asih asah asuh antara mahasiswa dengan dosen harus terlebih dahulu dikondisikan . Hubungan tersebut bisa dimulai dari hal-hal kecil, misalnya tentang masalah yang selalu awet diperbincangkan: dosen telat datang. Toho berharap tidak ada lagi dosen yang telat masuk kelas. Jika iya, mahasiswa dapat belajar mandiri. Dengan begitu, antara dosen dengan mahasiswa dapat terbina hubungan asih asah asuh.
Saat dihubungkan dengan pembangunan fisik yang saat ini digalakkan Unesa secara besar-besaran, Toho mengungkapkan bahwa usaha tersebut tidak sepenuhnya menunjang empat pilar keberhasilan.
“Pembangunan fisik tidak menjamin. Semua itu semata-mata hanya untuk menunjang kondisi belajar mengajar. Pembangunan besar-besaran tanpa didukung SDM yang berpola pikir hanya akan menghasilkan lulusan tanpa karakter,” ujar pria yang tinggal di Jl. Tenggilis Utara VI/9 Surabaya tersebut.
Prof. Toho, begitu sapaannya, juga ikut andil dalam memperbaiki pendidikan nasional di Indonesia. Peran nyata di dunia pendidikan yang paling ia ingat adalah saat dirinya mencetuskan dan melahirkan Deklarasi Surabaya 1998 yang disepakati secara nasional dalam seminar lokakarya nasional sehingga olahraga ditetapkan sebagai disiplin baru yang dikenal dengan Ilmu Keolahragaan (Sport Sciences). Ilmu Keolahragaan itu selanjutnya diakui sebagai anggota disiplin yang tergabung dalam Komisi Disiplin Ilmu nomor 13 dalam Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas dengan diterbitkannya SK Dirjen Dikti No. 309/Dikti/kep/1999. Dengan diakuinya Ilmu Keolahragaan, Toho lantas menerbangkan sayapnya dengan merintis berdirinya Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) yang sekarang ini ada di Unesa. Keberadaan fakultas itu selanjutnya diperlukan sebagai salah satu syarat mengonversikan dalam memberikan mandat yang luas dari berubahnya IKIP menjadi universitas.
“Hal yang dipergunjingkan saat itu adalah apakah olahraga termasuk ilmu yang berbasis dominan eksakta. Setelah perjuangan yang sulit, akhirnya B.J. Habibie, presiden RI waktu itu, mau mengakui olahraga sebagai ilmu mandiri bersama dua ilmu yang lain, Teknik dan Mipa,” ucapnya sambil tersenyum.
Pria kelahiran Trenggalek, 31 Desember 1947 itu terus aktif di dunia olahraga. Berbagai posisi penting sudah sempat ia rasakan.
§  Expert advisor on Physical Education and Sport for Minister of National Education 2008--2011
§  President of the Indonesian Anti-Doping Agency (LADI) 2002 – 2009
§  President of the Indonesian Sport Scientists Association (ISORI) 1998 – present
§  Special Advisor/Consultant of School Sports Development Department of National Education Republic of Indonesia 2007 – present
§  Secretary Minister of Youth and Sport of the Republic of Indonesia 2004 - 2008 
§  Director General of Sport Department of National Education Republic of Indonesia 2001 – 2004
§  Vice President of the Indonesian Sport Committee (KONI) 2003 – 2007
§  President of the Indonesian Supervisory and Development Board for Professional  Sport (BPPOPI) 2002 – 2005
§  President/Rector of the State University of Surabaya 1997 – 2002
§  Head of Public Service Organization, Surabaya State University 1993 – 1997
§  President of Indonesia Floorball Association (IFA) 2009—present
§  Special Advisor of Asian Primary School Sport Olympiad (APSSO) 2008—present)
§  Chairman of Indonesia Education League (Liga Pendidikan Indonesia) 2009—present
§  Founder of International  Social Sports Development Foundation (ISSDF) 2011—present
§  Founder of Toho Center Foundation (TCF) 2013—present.

Selain sebagai perintis ilmu keolahragaan, masih banyak partisipasi Toho dalam menunjang keberhasilan Unesa untuk memperbaiki pendidikan nasional.
1.     Merintis mengembangkan olahraga baseball dan softball di Indonesia khususnya di Jawa Timur sejak tahun 1965 – 2000 dan diplih oleh SIWO sebagai Pembina/pelatih terbaik.
2.     Merintis dan memelopori pengenalan olahraga baru Floorball di Indonesia 2009 dan sebagai Ketua Umumu Asosiasi Floorball Indonesia (AFI)
3.     Mencetuskan dan melahirkan Deklarasi Surabaya 1998 yang disepakati secara nasional dalam seminar lokakarya nasional sehingga Olahraga ditetapkan sebagai disiplin baru yang dikenal dengan Ilmu Keolahragaan (Sport Sciences).
4.     Merintis dan memperjuangkan Ilmu Keolahragaan untuk diakui sebagai anggota disiplin yang tergabung dalam Komisi Disiplin Ilmu nomor 13 dalam Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas dengan diterbitkannya SK Dirjen Dikti No. 309/Dikti/kep/1999.
5.     Merintis dan memperjuangkan berdirinya Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) yang selanjutnya keberadaan fakultas ini sangat diperlukan sebagai salah satu syarat mengonversikan dalam memberikan mandat yang luas dari IKIP menjadi universitas seperti Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Padang, dan Universitas Negeri Medan.
6.     Mempelopori berdirinya Komisi Nasional Pendidikan Jasmani dan Olahraga pada tahun 2003 dalam upaya mengidentifikasi, menganlisis dan mengevaluasi perkembangan ilmu dan teknologi keolahragaan beserta masalah yang terkait dan sekaligus mencari solusi pemecahannya guna digunakan sebagai bahan penyusunan kebijakan pembangunan olahraga.
7.     Merintis kerjasama antara Indonesia dan Korea melalui pendirian dan pembangunan gedung olahraga sebagai tanda persahabatan Korea-Indonesia di Cibubur, Jakarta sejak tahun 2001. Gedung tersebut hingga kini masih kukuh berdiri untuk kegiatan olahraga sebagai simbol dan   alat pendidikan dan persahabatan antar bangsa khususnya Korea dan Indonesia.
8.     Sebagai Ketua Tim yang ikut membidani lahirnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor, 16, 17, 18 tahun 2007 yang dinilai oleh masyarakat luas bahwa keberadaan peraturan perundang-undangan ini sangat vital sebagai landasan dan paying hokum pembangunan olahraga yang hampir seperempat abad telah diperjuangkan.
9.     Merintis dan mempelopori terselenggaranya event olahraga Porseni Pondok Pesantren Nasional I di Jawa Barat tahun 2001, Sumsel  (2003), Sumut (2005), Kaltim (2007) dan berikutnya di Jatim (2010). Ide mulia Porseni ini sejak awal digagas diharapkan dapat digelorakan melalui penyelenggaraan Porseni Pondok Pesantren pada tingkat Asean Asia dan bahkan dunia. Melalui kegiatan olahraga ini diharapkan citra  bangsa Indonesia yang mayoritas Islam yang dinilai negatif akibat terorisme dapat dihilangkan, karena terbukti para santri yang dipelopori  Indonesia dapat menunjukkan kepada dunia sikap yang damai dan bersahabat melalui  olahraga Porseni Pondok Pesantren ini.
10.            Merintis Gerakan Olahraga Nasional dengan pengarusutamaan (mainstreaming) tidak saja memberikan kepedulian kepada kaum perempuan tetapi juga kepada penderita cacat (handicaped) dengan menyelenggarakan Pekan Olahraga Pelajar Nasional bagi penderita cacat pertama kali di Jakarta tahun 2004. Program dinilai sangat berarti oleh BPOC sebagai awal kebangkitan olahraga cacat yang secara sistematik memperoleh perhatian untuk persiapan menuju paralympic games dan/atau special olympic. 
11.            Merintis dan mempelopori penyelenggaraan Pekan Olahraga KORPRI Nasional I di Jakarta tahun 2004 yang sampai sekarang masih diteruskan dengan  POR KORPRI Nasional II di Sumatera Selatan 2006.
12.            Mencetuskan ide dan mempelopori pengembangan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Olahraga Mahasiswa (PPLM) pada tahun 2002 pada saat masih menjabat Dirjen Olahraga. Pendirian PPLM dinilai oleh masyarakat khususnya perguruan tinggi sebagai langkah strategis untuk memberdayakan perguruan tinggi sebagai basis pembinaan olahraga nasional.
13.            Menginisiatif berdirinya Badan Pengawasan dan Pengendalian Olahraga Profesional (BPPOPI) sebagai respon terhadap keprihatinan terhadap dunia olahraga tinju professional di tingkat nasional dan dunia, dikarenakan banyaknya atlet (petinju) yang meninggal dunia berturut-turut akibat mis-manajemen. WBC menjatuhkan provisional sanction kepada Indonesia, namun dengan perjuangan yang ulet dan dengan adanya jaminan dari BPPOPI, maka ketika Toho Cholik Mutohir berpidato di depan sidang WBC di Las Vegas USA, seluruh peserta sidang secara aklamasi mencabut sanksi tersebut. Sejak itu petinju Indonesia bisa bebas bertinju kembali, namun dengan pengawasan dari BPPOPI.
14.            Merintis dan menginisiatif berdirinya Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) sebagai konsekuensi ikut menandatangani Deklarasi Copenhagen 2003. Mengikuti sidang umum WADA dan Unesco dan akhirnya ikut mempelopori berhasilnya Indonesia untuk meratifikasi Konvensi Internasional Anti Doping – Unesco dengan diterbitkannya Keputusan Presiden R.I Nomor 101 tahun 2007.  Sejak itu, Toho Cholik Mutohir duduk sebagai Ketua Umum LADI (2003—2008).
15.            Mencentuskan ide, mengembangkan dan mengimplementasikan Sport Development Index tahun 2003 – 2007 menjadi program tingkat nasional, dan diakui oleh koleganya dari luar negeri ide ini sebagai breakthrough dalam bidang ilmu keolahragaan dan mereka menyebut Indonesia sebagai the leading nation dalam pengukuran pembangunan olahraga. Buku berjudul SDI: konsep, metodologi dan aplikasi telah ditulis dan didaftarkan untuk mendapatkan hak cipta untuk membuktikan originalitas yang perlu dilindungi hak intelektual anak bangsa.
16.            Merintis dan mempelopori gerakan Fair Play, dalam kapasitasnya sebagai Tenaga Ahli/Konsultan bidang Olahraga Pendidikan di Depdiknas, dengan mengujicobakan dan menerapkan pertama kali sistem penilaian Fair Play dalam Fair Play Award  pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional I dan II Tingkat SD tahun 2008 dan 2009 sampai sekarang.
17.            Merintis dan mempelopori pengembangan program Liga Pendidikan Indonesia (LPI) sebagai ajang kompetisi tahunan SMP, SMA sederajad dan perguruan tinggi cabang olahraga sepakbola memperebutkan Piala Presiden. LPI merupakan event kompetisi olahraga pendidikan di Indonesia yang pertama kali digelar dengan menggunakan wawasan industri olahraga. LPI  telah dicanangkan menjadi program Nasional yang peresmiannya dilakukan oleh Presiden RI pada tangal 5 Juni 2009 di Jakarta.
18.            Merintis pengembangan model program continuing professional development (inservice training) bagi tenaga pendidikan (1980) – Master of Arts Project. School of Education Macquarie University.
19.            Merintis pengembangan instrumen untuk penilaian keefektivan mengajar bagi dosen – Ph.D Thesis, School of Education Macquarie University.
20.            Merintis aplikasi evaluasi efektivitas pengajaran (kinerja dosen) oleh mahasiswa di IKIP Surabaya (Unesa) tahun 1998—sekarang dalam rangka peningkatan mutu pengajaran.
21.            Meluncurkan pengembangan olahraga baru Smackball di Surabaya bersama guru Penjasorkes Saudara  Iwan (2010).
22.            Mempelopori pendirian organisasi cabang olahraga Floorball sebagai cabang olahraga baru di Indonesia, dan menjadi Ketua Umum Pertama Asosiasi Floorball Indonesia (2009—sekarang)
23.            Memimpin kontingen Indonesia (Chef de Mission) dalam Asian Youth Games suatu event olahraga bagi remaja  di tingkat Asia yang pertama kali diselenggarakan  di Singapore tanggal 29 Juni- 4 Juli 2009. Event ini menggugah kesadaran dan semangat kita bangsa Indonesia bahwa Negara-negara (khususnya di Asia) yang sangat maju olahraganya ternyata memiliki komitmen yang kuat untuk menyelenggarakan pembinaan  olahraga yang harus dimulai sejak usia dini dan dilaksanakan secara terpadu, berjenjang dan berkelanjutan dengan pendekatan Iptek. Disamping itu, Negara tersebut konsisten menerapkan prinsip bahwa sekolah menjadi basis utama pembinaan dan pengembangan olahraga secara jangka panjang.
24.            Ketua Tim Pengembang Program Pengakuan Pengalaman Kerja dan Hasil Belajar (PPKHB) tingkat Nasional bagi Guru dalam Jabatan, Direktorat Jenderal PMPTK, Kepmendiknas 2008—sekarang.
25.            Tim Pembangunan Karakter Bangsa dan Pendidikan Karakter, Direktorat Ketenagaaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi 2009—2011.
26.            WakilTetap Kementerian Pendidikan Nasional sebagai Sekretaris Dewan Nasional Program Indonesia Emas (PRIMA), Surat Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional Nomor 34566/A.A1/KP/2010 tanggal 10 Mei 2010.
27.            Ketua Tim Pengembang Program Peningkatan Kualifikasi Sarjana (S-1) Kependidikan bagi Guru dalam Jabatan (PSK-GJ) Dtijen Dikti sejak tahun 2008--2011 termasuk menyusun naskah akademik, rambu-rambu, dan pedoman teknis pelaksanaan program.
28.            Ketua Tim Pengembang Program Pengakuan Pengalaman Kerja dan Hasil Belajar: PPKHB (Recognition of Prior Learning), dalam rangka percepatan program Peningkatan Kualifikasi Sarjana (S-1) Kependidikan bagi Guru dalam Jabatan (PSK-GJ) Dtijen Dikti sejak tahun 2009--2011 termasuk menyusun naskah akademik, rambu-rambu, dan pedoman teknis pelaksanaan program.
29.            Ketua Tim Pengembang Program Pendidikan dan Pelatihan Terpadu. Badan PSDMPK dan PMP Kemdikbud tahun 2011--sekarang termasuk menyusun naskah akademik, rambu-rambu, dan pedoman teknis pelaksanaan program Diklat Terpadu.
30.            Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi   Peningkatan Kualifikasi Sarjana (S-1) Kependidikan bagi Guru dalam Jabatan (PSK-GJ) Dtijen Dikti sejak 2009—sekarang.
31.            Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi   program PPKHB dalam program Peningkatan Kualifikasi Sarjana (S-1) Kependidikan bagi Guru dalam Jabatan (PSK-GJ) Dtijen PMPTK sejak 2009—sekarang.
32.            Ketua Tim study visit ke Jepang dalam rangka short courses tentang system rekrutmen, pengakatan, penigembangan profesi guru, penilaian kinerja guru dan pengakuan pengalaman kerja dan hasil belajar (PPKHB) tanggal 11—16 Oktober 2010.
33.            Ketua Tim Pemetaan Kompetensi Guru Indonesia—Konsultan Bank Dunia, April 2011—2012.
34.            Mengikuti berbagai diskusi dan seminar dalam penyusunan peraturan perundang-undangan terkait dengan penilaian kinerja guru dan pengembangan profesi guru.
35.            Menjadi nara sumber dan penyaji dalam berbagai forum seminar dan lokakarya yang diselenggarakan oleh Ditjen Dikti dan Ditjen PMPTK dalam rangka pengembangan profesi pendidik (guru dan dosen).
36.            Menjadi pembicara kunci dalam berbagai seminar nasional dan internasional dalam bidang pendidikan jasmani, olahraga prestasi, dan olahraga pariwisata (sport tourism).
37.            Menulis makalah-makalah dalam bidang pendidikan, pendidikan jasmani dan olahraga dalam seminar nasional dan internasional, dan menyusun buku-buku antara lain (1) Permainan Bola Voli (bersama Muhyi 2012; (2) Pemanduan Bakat Cabang Olahraga Voli (bersama Nining WK, 2012); (3) Pembinaan Karakter Bangsa Generasi Muda dalam Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa (2011); (4) Dimensi Pedagogi Olahraga (2011); (5) Berkarakter dengan Berolahraga, Berolahraga dengan Berkarakter (bersama M Muhyi, 2011); (6)  Perkembangan Motorik pada Masa Kanak-Kanak (bersama Gusril, 2008), (7) Sport Development Index: Konsep, Metodolgi dan Aplikasi (2007),  (8) Wacana Pendidikan di Era Globalisasi (2003); (9) Gagasan-gagasan tentang Pendidikan Jasmani dan Olahraga (2002).

Latar belakang pendidikan Toho memang kuat. Gelar sarjana ia peroleh dari Sekolah Tinggi Olahraga Surabaya, baru setelah itu melanjutkan S2 ke Macquarie University – Sydney Australia dengan spesialisasi jurusan Educational Planning. Pendidikan doktor ia selesaikan juga di negara kangguru tersebut dengan mengambil spesialisasi jurusan Educational/Instructional Evaluation. Dari sekian banyaknya partisipasi Toho dalam menunjang keberhasilan Unesa untuk memperbaiki pendidikan nasional, Toho menilai suatu saat nanti Unesa akan bisa menjadi lokomotif pendidikan layaknya UPI. “Asal dengan tidak melupakan tridharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” cetusnya.
Ke depan, Toho berharap agar Unesa lebih maju lagi dengan lompatan-lompatan akademik. Tidak perlu tinggi-tinggi, yang terpenting mahasiswa dapat berkreasi secara inovatif. Bukan pendidikan saja, namun Unesa juga berupaya untuk memberi wawasan berwirausaha sehingga mahasiswa dapat menjawab tantangan zaman.
“Kita harus berlomba-lomba memajukan Unesa dengan kepakaran masing-masing. Kuncinya adalah sinergi dengan warga di dalam maupun di luar kampus. Dengan begitu, saya berani berkata satu kata untuk Unesa, bermartabat,” pungkas bapak tiga anak itu (San).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

No comments:

Post a Comment